Drama PKL | Dilema Mahasiswa Tingkat Akhir Mencari Tempat PKL

Assalamualikum Sahabat Hijau, hari ini aku bukan untuk memposting sebuah informasi atau literatur mengenai pelajaran selama di kampus. Lebih tepatnya, hari ini aku mau sedikit berkeluh kesah dengan kalian semua.

laptop, pulpen, notebook, drama pkl
Sumber: Dok. Pribadi

Sudah tak terasa aku sekarang duduk di bangku kuliah tingkat akhir. Desas-desus sulitnya menjadi mahasiswa tingkat akhir sudah aku dengar semenjak aku masih semester satu. Aku pikir menjadi mahasiswa tingkat akhir apa sulitnya? jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan dipersiapkan dari awal waktu. Ternyata, memang "ngomong itu gampang" Saat ini aku mengalaminya sendiri.

Jauh-jauh hari aku sudah mencoba mempersiapkan diri menyambut semester akhir. Belajar yang sungguh-sungguh di setiap semesternya, bertanya perihal Praktik Kerja Lapang (PKL) ke kakak tingkat, sampai-sampai mengorbankan waktu libur panjang hanya untuk mengikuti program magang di sebuah perusahaan.

Saat liburan panjang tiba, sebagian mahasiswa banyak yang mengikuti program magang di berbagai perusahaan di Indonesia. Selain untuk mengisi waktu liburan juga sebagai latihan kelak menjalani Praktik Kerja Lapang (PKL). Begitupun dengan aku pribadi, aku beserta teman aku kala itu mengikuti program magang di PT Holcim Indonesia Plan Narogong.

Saat magang di PT Holcim, aku mengambil tema Pengelolaan Kualitas Udara dan Pengelolaan Limbah Cair. Banyak sekali pengalaman-pengalaman luar biasa ketika aku magang di sana. Sampai aku pun beserta teman aku optimis akan mudah dan lebih siap lagi dalam menjalani PKL nanti.

Waktu pun berlalu, tak terasa libur panjang pun berakhir. Pengalaman satu bulan magang di perusahaan pun sudah aku kantongi tersurat dalam sebuah sertifikat penghargaan dari PT Holcim Indonesia. Saat itu adalah hari pertama masuk kuliah di semester 5 (sudah tingkat akhir). Tiba-tiba dosen bertanya "Di sini yang sudah dapat tempat PKL siapa saja" Seketika kelas pun gaduh, aku pun bertanya-tanya dalm hati "Bukannya PKL masih lama, sekitar 6 bulan lagi". Saat itu ada satu, dua orang yang sudah mendapatkan tempat PKL. Awalnya aku masih santai.

Seiring waktu berjalan, aku sudah mempunyai bidikan tempat PKL dari jauh-jauh hari yaitu di PT Biofarma (Bandung). Perjalanan dan drama pun tak terpisah dari perjuanganku mengajukan PKL di perusahaan tersebut, awalnya sempat mendapat pro kontra dengan alasan kakak tingkat sudah banyak yang PKL di PT. Biofarma.

Akhirnya aku pun mencoba mencari bidikan perusahaan yang lain. Banyak faktor yang dipertimbangkan saat aku memilih tempat PKL, diantaranya yaitu status Proper dari pemerintah, lokasi perusahaan, dan tentunya rekam jejak kakak tingkat di perusahaan (apakah sudah di ambil oleh kakak tingkat atau belum).

Kala itu aku berjuang dengan teman aku yang dulu teman magang bareng. Perusahaan awal yang dihubungi adalah PT Holcim Indonesia Plan Cilacap (pilih perusahaan tersebut karena perusahaan tersebut pernah menyandang proper emas di tahun 2015). Proposal PKL dan administrasi lainnya sudah dipersiapkan, ketika aku telpon ternyata di sana hanya bisa menerima PKL selama satu bulan saja, sedangkan ketentuan dari kampus adalah minimal 20 hari kerja atau sekitar 2 bulan.

PT Holcim Indonesia Plan Cilacap pun aku coret dari daftar bidikan tempat PKL aku. Target selanjutnya adalah PT YKK (karena perusahaan tersebut dekat, yaitu di Kab. Bekasi). Setelah di telp ternyata perusahaan tersebut tidak menerima PKL. Ok... Aku lanjut ke perusahaan lainnya yaitu perusahaan otomotif yang ada di karawang (propernya hijau, aku lupa nama perusahaannya). Aku telp perusahaan yang di karawang tersebut, dan ternyata slot untuk PKL sudah penuh. Sempat diri ini berputus asa.

Hampir dua bulan waktu berlalu, saat itu aku dan teman aku mengajukan PKL di PT Semen Padang. Perusahaan merespon baik, kedua teman aku akhirnya diterima di sana. Aku tidak (karena waktu itu aku ambil Sistem Manajemen Lingkungan/SML sedangkan teman aku ada yang ambil tema K3, aturan yang berlaku jika tema SML dan K3 berbarengan itu tidak boleh. Cobaan pun datang lagi. Tapi saat itu entah mengapa aku tambah semangat untuk mencari perusahaan lain.

Aku ingat betul ada sebuah aturan "Perusahaan boleh sama, asalkan tema yang diambil berbeda". Setelah kucari-cari data kakak tingkat yang mengambil PKL di PT Biofarma, ternyata ada satu tema yang belum diambil yaitu Pengelolaan Limbah Cair. Setelah melalui konsultasi dan obrolan-obrolan dengan dosen, akhirnya aku disetujui mengambil tema tersebut di PT Biofarma. Aku pun telp PT Biofarma, aku menerima respon yang baik dari HRD, Aku pun langsung menanyakan prosedur dan persyaratan yang diperlukan untuk PKL di sana.

Kebetulan di kelasku seiap hari jumat itu libur. Hari jumat ku putuskan untuk segera ke PT Biofarma mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Aku naik kereta ke Bandung (sendirian), untung saja kakak kelasku waktu SMP (dia kerja di bandung) berbaik hati mau ditumpangi tidur satu malam di Bandung. Bahkan paginya temanku itu mau mengantarkanku ke perusahaan langsung. Kau sangat berjasa sekali sumpah. Segala berkas yang dibutuhkan sudah aku berikan ke HRD. Aku disuruh menunggu balasan atau konfirmasi selambat-lambatnya dua minggu sebelum tanggal pelaksanaan. Awalnya aku sempat khawatir bagaimana jika H-2 minggu aku ditolak, apakah bisa cari tempat PKL dalam 2 minggu saja?

Di setiap telpon ku dengan Mamah (Ibuku) selalu aku selipkan kata-kata meminta doa dan restu. Sumpah aku sangat khawatir dan resah. Tapi untungnya Mamah selalu supportku dengan kalimat-kalimat positif. Hari-hari terus berlalu hingga detik ini pun terjadi. sekitar 20 hari lagi harusnya aku sudah PKL, dan aku masih belum punya tempat PKL yang fixed.

Stress pasti ada. Tapi aku tak mau menyerah begitu saja. Akhirnya aku mencari perusahaan lainnya. Ku temukan perusahaan yang cocok yaitu PT Papertech Indonesia, letaknya dekat dengan rumahku yang di Subang sekitar 1 jam saja (Propernya Biru di tahun 2016). Proposal sudah aku buat dan sudah di acc, tadinya hari minggu mau pulang dan seninnya langsung ke perusahaan. Karena surat pengantar dari kampus belum juga rampung, akhirnya aku harus menunggu sampai hari senin, kemungkinan senin siang atau hari selasa pagi aku baru bisa pulang dan mengunjungi perusahaan. Saat aku telpon perusahaan, responnya bagus, semoga saja dipermudah Aamiin. Aku ambil tema Manajemen Keselamatan Kerja OHSAS 18001:2007.

Harapan aku di PT Biofarma sangat minim sekali. Hampir setiap minggu aku telpon namun jawabannya sama yaitu belum ada panggilan. Dimanapun aku PKL, aku terima dengan lapang dada, semua terbaik yang diberikan Allah. Ya Allah Mudahkanlah. Teman-teman Sahabat Hijau, bantu doanya ya...


Bersambung....

PERKIRAAN BEBAN PENCEMAR DARI EMISI KENDARAAN BERMOTOR DI RUAS JALAN PADJADJARAN KOTA BOGOR

PENDAHULUAN
Wilayah perkotaan, termasuk Kota  Bogor, merupakan pusat pemukiman dan aktivitas non pertanian masyarakat. Selain penduduknya yang lebih padat, umumnya polusi udara di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakansumber utama pencemaran udara di daerah perkotaan. 

Asap tebal berwarna hitam yang keluar dari knalpot mobil
Sumber gambar: buyacar.co.uk

Menunut Soedomo et al, 1990 transportasi darat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap setengah dari total emisi PM10, untuk sebagian besar Pb, CO, HC, NOx dan SOx didaerah perkotaan, dengan konsentrasi utama terdapat didaerah lalu lintas yang padat, dimana tingkat pencemaran udara sudah dan hampir melampaui standar kualitas udara ambien.

Keterkaitan antara pencemaran udara di perkotaan dan kemungkinan adanya resiko terhadap kesehatan. Pengaruh yang merugikan mulai dari meningkatnya kematian akibat adanya kabut asap (episod smog) sampai pada gangguan estetika dan kenyamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai konsentrasi CO, NOx, SO2, HC, dan PM10 dari aktivitas transportasi di ruas Jalan Padjajaran Kota Bogor berdasarkan metode beban emisi dan black box model. Sehingga dapat diketahui status ketercemaran senyawa ini di udara ambien pada ruas Jalan Padjajaran Kota Bogor.


BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan diruas jalan Padjajaran dengan dua lokasi yaitu jalan arah ke Warung Jambu dan jalan arah ke Terminal Baranangsiang. Lokasi penelitian lebih tepatnya di depan Sekolah Bisnis IPB dan di depan Gedung Telkom. Penelitian dilakukan pada hari jumat tanggal 12 Mei 2017 pada pagi hari pukul 09.00-10.00 dan sore hari pukul 15.00-16.00.

Perlengkapan yang diperlukan terdiri atas hand counter, alat tulis, laptop beserta dan software Microsoft Excel. Penelitian dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Tahapan yang dilkukan terdiri atas tahapan pengumpulan data primer, perhitungan beban emisi (a) dan perhitungan konsentrasi Box Model (b) dengan rumus sebagai berikut.

Beban Emisi = FE . N . L
Keterangan :
Beban emisi : Total emisi dari kendaraan (g/Jam)
FE (Faktor Emisi) : Massa pencemar per unit aktivitas (g/km)
N : Jumlah kendaraan perjam
L : Panjang jalan (km)

Perhitungan Konsentrasi Box model:
C = (L q)/(h u)
Keterangan :
C : Konsentrasi polutan (µg/m3)
L : Panjang wilayah kajian (m)
q : Laju emisi polutan wilayah kajian (µgr/m2s)
u : Kecepatan angin (m/s)
h : ketinggian mixing height (m) 

Pengumpulan data primer merupakan data perhitungan kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya padjajaran, data perhitungan beban emisi, dan data perhitungan konsentrasi box model. Perhitungan tersebut membutuhkan data berupa panjang jalan, laju emisi, ketinggian mixing height, dan kecepatan angin.
Analisis data dan bandingkan dengan baku mutu yang tercantum dalam peraturan perundangan yang berlaku.


PERHITUNGAN
Diketahui:
Luas Wilayah (A): 12000 m^3
Panjang Jalan (L): 1000 m
Jenis Kendaraan
Jumlah Kendaraan (N)
Faktor Emisi (FE)
CO
Nox
SO2
HC
PM 10
Truk
55
8,4
17,7
0,82
1,8
1,4
Motor
3646
14
0,29
0,008
5,9
0,24
Mobil+Angkot
1749
40
2
0,026
4
0,01
BUS
32
11
11,9
0,93
1,3
1,4

Beban Emisi:
Beban Emisi (BE) gram/unit
CO
Nox
SO2
HC
PM 10
462000
973500
45100
99000
77000
51044000
1057340
29168
21511400
875040
69960000
3498000
45474
6996000
17490
352000
380800
29760
41600
44800
Beban Emisi = FE . N . L
Beban Emisi CO (truk) = 8.4*55*1000 = 462000 gram/unit

Konsentrasi polutan (C)
C = (L q)/(h u)
cari terlebih dahulu nilai q
q : Laju emisi polutan wilayah kajian (µgr/m2s)
q = BE*10^-6*(2,78*10^-4) =======> di sini saya lupa kenapa bisa dikalikan 2,78*10^-4, jika temen-temen tahu silahkan komen ya.
q (µg/m^2 s)
CO
Nox
SO2
HC
PM 10
0,000128436
0,000270633
1,254E-05
2,7522E-05
2,1406E-05
0,014190232
0,000293941
8,109E-06
0,00598017
0,00024326
0,01944888
0,000972444
1,264E-05
0,00194489
4,8622E-06
0,000097856
0,000105862
8,273E-06
1,1565E-05
1,2454E-05
q CO = 462000*10^-6*(2,78*10^-4)
q CO = 0,000128436

Konsentrasi Polutan
CO
Nox
SO2
HC
PM 10
0,000064218
0,00013532
6,269E-06
0,000013761
0,000010703
0,007095116
0,00014697
4,054E-06
0,002990085
0,000121631
0,00972444
0,00048622
6,321E-06
0,000972444
2,43111E-06
0,000048928
5,2931E-05
4,137E-06
5,7824E-06
6,2272E-06
C = (L q)/(h u)
C CO = (1000*0,000128436)/(2000/1)
C CO = 0,000064218


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menujukan bahwa konsentrasi terbesar beban pencemar adalah gas CO. Total beban pencemar di pagi hari yaitu 157.539 gram/jam yang terdiri dari CO (77,3%), NOx (3,8%), SO2 (0,1%), HC (18.2%), dan PM10 (0,6%). Total beban pencemar di sore hari yaitu 158.845,488 gram/jam yang terdiri dari CO (78,7%), NOx (3,8%), SO2 (0,1%), HC (16,8% dan PM10 (0,6%).

Berikut adalah grafik jumlah kendaraan yang terhitung pada saat pengamatan di Jl Padjadjaran saat pagi dan sore hari



Berikut adalah persentase penyumbang beban emisi berdasarkan tiap-tiap parameter




NOx atau Nitrogen Oksida adalah gas hasil dari reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara saat pembakaran, terutama pada suhu tinggi. Gas NOx sendiri terdiri dari dua macam gas yaitu, nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida dimana kedua gas tersebut sangat berbahaya bagi lingkungan. Konsentrasi gas NO yang tinggi akan mengakibatkan gangguan pada sistem saraf seperti kejang-kejang. Apabila keracunan terus terjadi maka akan berakhir dengan kelumpuhan. Gas NOx akan lebih berbahaya apabila gas tersebut teroksidasi oleh oksigen sehingga menjad gas NO2.

Pengukuran dan perhitungan kadar NOx dilakukan selama 60 menit sepanjang Jalan Pajajaran arah Jambu Dua dan arah Terminal Baranang siang (Jl. Padjadjaran). Total  konsentrasi  NOx dari masing-masing kendaraan saat pagi hari didapat hasil  sebesar 68,4 µg / Nm3 dan sore hari sebesar 423,7 µg / Nm3 ditinjau dari Peraturan Pemerntah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pencemaran Udara, kadar NOx pada sore hari sudah melebihi baku mutu. Batas konsentrasi NOx pada udara ambien adalah 400 µg / Nm3.

CO2 atau Karbon Dioksida adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Karbon dioksida dihasilkan oleh semua makluk hidup dan berperan penting dalam proses fotosintesis. Senyawa ini merupakan gas yang tidak berbau dan tidak berwarna, ketika pada konsentrasi yang tinggi dan terhidup maka akan terasa asam pada mulut dan mengengat di hidung dan di tenggorokan. Konsentrasi yang lebih besar dari 5.000 ppm akan tidak baik bagi kesehatan  dan konsentrasi yang melebihi 50.000 ppm maka dapat membahayakan kehidupan hewan.

Pengukuran dan perhitungan kadar CO2 yang telah dilakuan didapatkan hasil konsentrasi dengan total sebesar 1.409,9 µg / Nm3 pada pengukuran kendaraan pagi hari dan total konsentrasi sebesar 8.678,6 µg / Nm3  pada pengukuran sore hari. Ditinjau dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pencemran Udara kadar CO2 masih dibawah ambang baku mutu udara ambien. Batas konsentrasi CO2 pada udara ambien adalah 30.000 µg / Nm3.

Beberapa polutan di emisikan oleh kendararaan bermotor dan salah satunya adalah partikel debu yang ukuran diameternya kecil dari 10 μmeter disimbolkan dengan PM10 atau PM10. Sumber utama dari emisi PM10 adalah dari kendaraan diesel dengan bahan bakar solar.

Konsentrasi hasil pengukuran untuk parameter PM10  di ruas Jalan Padjajaran selama 1 jam masih dibawah nilai ambang batas baku mutu udara ambien yaitu sebesar 11,73   μgr/m3 pada pagi hari dan 61,73 μgr/m3 pada sore hari, sedangkan baku mutu PM10 dalam Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara yaitu sebesar 150 μgr/Nm3 selama 24 jam.

Berdasarkan faktor emisi, kendaraan sepeda motor merupakan kendaraan bermotor penyumbang terbanyak gas HC. Konsentrasi gas HC itu sendiri dihasilkan dari pelepasan molekul bahan bakar yang tidak terbakar selama berlangsungnya pembakaran dalam mesin kendaraan (Soedomo, 2001).

Hidrokarbon (HC) diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.

Pengukuran dan perhitungan kadar HC yang telah dilakuan didapatkan hasil konsentrasi dengan total sebesar 331,57 µg / Nm3 pada pengukuran kendaraan pagi hari dan total konsentrasi sebesar 1856,71 µg / Nm3  pada pengukuran sore hari. Ditinjau dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pencemran Udara kadar HC  melebihi ambang baku mutu udara ambien. Batas konsentrasi HC pada udara ambien adalah 160 µg / Nm3.

SO2 atau sulfur dioksida adalah senyawa gas atau cairan yang tidak berwarna, dengan bau yang menyengat dan mencekik leher. SO2 terbentuk sebagai hasil dari pembakaran bahan bakar fossil ( batu bara dan minyak bumi), dan peleburan biji tambang ( aluminium, copper, zinc, lead, iron) yang mengandung sulfur.

Gas SO2 telah lama dikenal sebagai gas yang dapat menyebabkan iritasi pada system pernafasan, seperti pada slaput lender hidung, tenggorokan dan saluran udara di paru-paru. Efek kesehatan ini menjadi lebih buruk pada penderita asma. Disamping itu SO2 terkonversi di udara menjadi pencemar sekunder seperti aerosol sulfat.

Aerosol yang dihasilkan sebagai pencemar sekunder umumnya mempunyai ukuran yang sangat halus sehingga dapat terhisap ke dalam sistem pernafasan bawah. Aerosol sulfat yang masuk ke dalam saluran pernafasan dapat menyebabkan dampak kesehatan yang lebih berat daripada partikel-partikel lainnya karena mempunyai sifat korosif dan karsinogen. Oleh karena gas SO2 berpotensi untuk menghasilkan aerosol sulfat sebagai pencemar sekunder, kasus peningkatan angka kematian karena kegagalan pernafasan terutama pada orang tua dan anak-anak sering berhubungan dengan konsentrasi SO2 dan partikulat secara bersamaan (Harrop, 2002).

Pengukuran dan perhitungan kadar SO2 yang telah dilakuan didapatkan hasil konsentrasi dengan total sebesar 1,73 µg / Nm3 pada pengukuran kendaraan pagi hari dan total konsentrasi sebesar 10,23 µg / Nm3  pada pengukuran sore hari. Ditinjau dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pencemran Udara kadar SO2  masih dibawah ambang baku mutu. Batas konsentrasi SO2 pada udara ambien adalah 900 µg / Nm3.



KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan data, analisis dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Beban emisi terbesar didapat dari gas CO
2.  Total beban pencemar di sore hari lebih besar dibandingkan dengan total pencemar di pagi hari. Total beban pencemar di sore hari yaitu 158.845,488 gram/jam, sedangkan Total beban pencemar di pagi hari yaitu 157.539 gram/jam.
3.  Gas CO, NOx (pagi hari), SO2 dan PM10 masih di bawah kualitas udara ambien standar, sedangkan gas HC dan gas NOx (sore hari) telah melewati standar kualitas udara ambien.


DAFTAR PUSTAKA
__________. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
Harrop, Martin dan William L. Miller. 1987. Elections and Voters: A Comparative Introduction. The Macmillan Press: London.
Soedomo, M. 2001. Pencemaran Udara. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Di susun oleh:

 Darmaji G.1), Putri Yulindasari2), Reza Mutia Cahyani3), Riki Bahari4),Rizki Rukyanti5)
E-mail: 1darmasku@gmail.com 2putri.yulinda03@gmail.com 3rezamutia19@gmail.com 4rikibahari12@gmail.com 5rizkiphe6@gmail.com


Anda sedang mencari:
Beban Pencemar Emisi Kendaraan | Faktor Emisi | Rumus Konsentrasi Polutan Box Model | Nilai Ambang Batas Emisi | Emisi di Kota Bogor | Emisi Gas CO | Emisi Gas NOx | Emisi Gas SO2 | Emisi Debu PM10 | Emisi Gas HC

7 Core Subjects Corporate Social Responsibility di ISO:26000 Clausul 6

Tujuh subjek inti tentang tanggung jawab sosial perusahaan terdapat di ISO:26000 klausul 6. Berikut adalah isi dari klausul 6 ISO 26000

Bagan 7 subjek inti CSR ISO:26000
Sumber gambar: SlideShare


Clausul 6.2 Tata Kelola Organisai
Clausul 6.3 Hak Asasi Manusia
Isu 1: Uji tuntas 6.3.3
Isu 2: Situasi berisiko hak asasi manusia 6.3.4
Isu 3: Penghindaran keterlibatan 6.3.5
Isu 4: Menyelesaikan keluhan 6.3.6
Isu 5: Diskriminasi dan kelompok rentan 6.3.7
Isu 6: Hak sipil dan politik 6.3.8
Isu 7: Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya 6.3.9
Isu 8: Prinsip dan hak mendasar di tempat kerja 6.3.10
Clausul 6.4 Ketenagakerjaan
Isu 1: Ketenagakerjaan dan hubungan kerja 6.4.3
Isu 2: Kondisi kerja dan perlindungan sosial 6.4.4
Isu 3: Dialog sosial 6.4.5
Isu 4: Kesehatan dan keselamatan di tempat kerja 6.4.6
Isu 5: Pengembangan dan pelatihan manusia di tempat kerja 6.4.7
Clausul 6.5 Lingkungan Hidup
Isu 1: Pencegahan polusi 6.5.3
Isu 2: Penggunaan sumber daya yang berkelanjutan 6.5.4
Isu 3: Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim 6.5.5
Isu 4: Perlindungan lingkungan, keanekaragaman hayati dan pemulihan habitat alami 6.5.6
Clausul 6.6 Kegiatan usaha yang adil
Isu 1: Anti-korupsi 6.6.3
Isu 2: Keterlibatan politik yang bertanggung jawab 6.6.4
Isu 3: Persaingan yang Sehat 6.6.5
Isu 4: Mempromosikan tanggung jawab sosial dalam rantai nilai 6.6.6
Isu 5: Menghormati hak kepemilikan 6.6.7
Clausul 6.7 Isu Konsumen
Isu 1: Pemasaran yang adil, informasi faktual dan tidak bias dan praktik kontrak yang adil 6.7.3
Isu 2: Melindungi kesehatan dan keselamatan konsumen 6.7.4
Isu 3: Konsumsi berkelanjutan 6.7.5
Isu 4: Layanan konsumen, dukungan, dan keluhan dan penyelesaian sengketa 6.7.6
Isu 5: Perlindungan data konsumen dan privasi 6.7.7
Isu 6: Akses terhadap layanan penting 6.7.8
Isu 7: Pendidikan dan kesadaran 6.7.9
Clausul 6.8 Keterlibatan dan Pengembangan Masyarakat
Isu 1: Keterlibatan masyarakat 6.8.3
Isu 2: Pendidikan dan kebudayaan 6.8.4
Isu 3: Pengembangan keterampilan dan ketenagakerjaan 6.8.5
Isu 4: Pengembangan teknologi dan akses 6.8.6
Isu 5: Penciptaan kekayaan dan pendapatan 6.8.7
Isu 6: Kesehatan 6.8.8
Isu 7: Investasi sosial 6.8.9