Mengenal Lebih Dekat Seni Terrarium


Selamat siang Sahabat Hijau! Hari ini saya akan membuat sebuah postingan yang berisi tentang Pengenalan Seni Terrarium. Apa itu Terrarium? Terrarium adalah sebuah seni penataan atau pembuatan ekosistem kecil di suatu wadah tertentu (biasanya wadah kaca bening). Terrarium hampir mirip dengan Aquascape, namun perbedaannya pada terrarium tidak menggunakan media air.

Sejarah terrarium pertama kali diperkenalkan di kerajaan Inggris dengan rumah kaca mini. Terarium dibuat sesuai dengan kondisi alam yang sebenarnya. Sehingga seringkali terrarium diidentikan dengan laboratorium mini. Terarium menampilkan taman miniatur dalam media kaca. Terarium dapat mensimulasikan kondisi di alam yang sebenarnya dalam media kaca tersebut. Misalnya terarium dapat mensimulasikan ekosistem gurun, ekosistem padang pasir, ekosistem hutan hujan tropis dan bermacam-macam ekosistem lainnya.



Terrarium Desert
sumber: dachshund-in-the-desert.blogspot.com

Terrarium Padang Rumput
sumber: www.tonguechic.com

Terrarium Rainforest
sumber: Pinterest

Buat sahabat hijau yang hobbi dengan hal mengenai tanaman tapi tidak punya lahan yang cukup, solusi membuat terrarium adalah hal yang sangat tepat untuk dipilih. Selain tidak memakan lahan yang luas, berikut adalah berbagai kelebihan terrarium:

  1. Penghias Ruangan (menciptakan nuansa alami yang dapat menenangkan pikiran)
  2. Penyalur ide kreatif
  3. Media Pengamatan suatu ekosistem
  4. Bahkan, sebagai peluang bisnis
Seperti halnya bercocok tanam biasa, terrarium juga memerlukan media tanam dalam proses penanaman. Media tanam tersebut diantaranya:
  1. Batu-batu kecil (berfungsi untuk tempat penampung/tergenangnya air)
  2. Zeloit (Berfungsi untuk menfilter air/sebagai estetika)
  3. Arang aktif (Berfungsi untuk menfilter air/membunuh bakteri/jamur yang tidak diperlukan)
  4. Spaghnum Mos (Befungsi untuk menyimpan air agar tetap lembab)
  5. Tanah (Sebagai media tanam atau estetika, optional)
  6. Pasir (sebagai media tanam yang bersifat tidak menyimpan air, berfungsi untuk mengatasi banyaknya genangan air di permukaan)
  7. Pupuk Kompos (Berfungsi sebagai sumber nutrien tanaman)
Lalu jenis tanaman seperti apakah yang cocok untuk terrarium? Berikut adalah tanaman yang cocok untuk dijadikan terrarium.
  • Kaktus
kaktus mini
sumber: referensi ilmu seputar pertanian

  • Sukulen 
succulent
sumber: Engledow Group

  • Lumut Hutan (Moss)
Moss
sumber: Pixabay

  • Zebrina pendula
zebrina
sumber: Connecticut Valley Biological

  • dan lain-lain (masih bisa eksplore)

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam memilih jenis tanaman untuk terrarium:
  1. Pertumbuhannya lambat
  2. Toleran terhadap cahaya dan kelembaban (tahan banting terhadap keadaan ekstream)
  3. Berukuran kecil
  4. Satu ekosistem (tidak boleh memadukan tanaman butuh kelembaban tinggi (lumut hutan) dengan tanaman butuh kelembaban rendah (kaktus/sukulen)
Nah, itulah pengenalan dasar mengenai Apa itu Terrarium. Mengenai cara pembuatan terrarium akan dibahas di postingan selanjutnya. Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Film Pendek "Hope"

Ini merupakan sebuah film pendek yang dibuat untuk berpartisipasi dalam mengikuti lomba film Pohon FWI Bogor. Walaupun tidak mendapatkan predikat juara, namun semoga film ini memberikan sedikit pesan moral kepada kita semua terkhusus dalam bidang lingkungan.

Cuplikan gambar film pendek "Hope"
Cuplikan gambar film pendek "Hope"


Sinopsis

Film pendek “Hope” mengisahkan tentang sisi lain dari sebuah pohon. Makhluk ciptaan Allah yang selalu berkorban untuk makhluk lainnya, terkhusus adalah kita sebagai manusia. Pohon selalu memberikan apapun yang kita butuhkan. Udara yang segar selalu ia berikan tanpa pamrih, buah yang manis selalu ia ciptakan, bahkan kokohnya batang yang dimiliki, ia rela berikan untuk kita.

Berapa juta batang pohon yang telah terguling? Berapa hektar lahan hutan yang hilang dari wajah bumi?. Hijaunya warna bumi perlahan semakin menipis tergantikan oleh hamparan gedung-gedung pencakar langit. Pembangunan terjadi dimana-mana, sampai terkadang kita sulit mencari celah hijaunya pohon.

Pohon hilang, udara segar pun berkurang. Hal tersebut benar-benar terjadi. Dengan berkurangnya pohon di bumi ini, maka semakin sedikit pula polusi-polusi udara yang diserap oleh sang pohon. Banyak sekali manusia berlindung diri dibalik selembar masker dari kepulan polusi. Jika semua itu tetap terjadi bahkan semakin menjadi-jadi, lalu bagaimanakah kondisi bumi kita kelak nanti? Akankah kita masih bisa melihat hamparan warna hijau di wajah sang bumi?

Happy Watching :)

Tim Produksi:
1. Riki Bahari
2. M. Rafif F
3. Dea Desi Deria

- Pembuatan film menggunakan 1 buah kamera Canon
- Software yang digunakan untuk editing yaitu Adobe Premiere
- dan untuk rendering menggunakan Adobe Media Encoder




Lokasi Pengambilan Gambar:
- Kebun Raya Bogor
- Kampus IPB Gunung Gede
- Stasiun Bogor
- Jl. Jendral Sudirman (Jakarta Selatan)

Daftar music yang digunakan (tertera di ending/credit film)


Nah, buat sahabat hijau yang ingin download film pendek "Hope" caranya mudah cukup klik link download di bawah ini:

Analisa Perjanjian Internasional Berbasis Lingkungan, PROTOKOL KYOTO

Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention
on Climate Change
(Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim)
Analisa Perjanjian Internasional Berbasis Lingkungan, PROTOKOL KYOTO
Gambar ilustrasi

Protokol Kyoto adalah sebuah amendemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.
Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02 °C dan 0,28 °C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003).

Nama singkat                         : "Climate Change-Kyoto Protocol"
Tanggal penandatanganan  : 11 Desember 1997
Lokasi                                     : Kyoto, Jepang
Berlaku                                  : 16 Februari 2005
Pihak                                      : 181 negara dan Uni Eropa
Tujuan                                   :
Mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menggalakkan program-program nasional di berbagai negara yang bertujuan untuk reduksi emisi gas rumah kaca tersebut dan menetapkan persentase target reduksi.

Protokol Kyoto dihasilkan dalam pertemuan ketiga Conference of Parties (COP) UNFCCC pada tanggal 11 Desember 1997 di kota Kyoto, Jepang, dan mulai berlaku pada 16 Februari 2005. Yang menjadi perbedaan utama antara Konvensi dan Protokol yaitu Konvensi akan mendorong negara – negara industri untuk menstabilkan emisi GRK, sedangkan Protokol membuat mereka berkomitmen untuk melakukannya. Bagi negara yang menandatangani dan meratifikasinya, Protokol Kyoto akan mengikat secara hukum.
Protokol Kyoto memiliki masa komitmen yang akan berakhir pada tahun 2012. Negara-negara penandatangan UNFCCC masih berada dalam proses perumusan perjanjian baru yang akan meneruskan atau menggantikan Protokol Kyoto setelah masa komitmen pertama berakhir. Untuk itu pada tahun 2007 telah dihasilkan Bali Roadmap yang melandasi perundingan internasional dalam mencapai hal tersebut.
Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca - karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.
Indonesia sebagai negara berkembang tidak dikenakan kewajiban untuk menurunkan emisinya. Namun, sebagai negara kepulauan dengan kegiatan ekonomi yang sebagian besar berbasis pada sumber daya alam, seperti pertanian, perikanan dan kehutanan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Diperkirakan, sebesar 10 persen dari pendapatan nasional Indonesia akan hilang akibat dampak perubahan iklim ini pada pertengahan abad 21 ini. Oleh karena itu, upaya adaptasi terhadap perubahan iklim sangatlah penting untuk dilakukan dalam menyelamatkan kehidupan masyarakat di Indonesia.
Indonesia yang telah meratifikasi Protokol Kyoto pada 3 Desember 2004, melalui UU no. 17/ 2004, sesungguhnya akan menerima banyak manfaat dari Protokol Kyoto. Melalui dana untuk adaptasi yang disediakan melalui protokol ini, Indonesia bisa meningkatkan kemampuannya dalam beradaptasi dengan dampak-dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, pergeseran garis pantai, musim kemarau yang semakin panjang, serta musim hujan yang semakin pendek periodenya, namun semakin tinggi intensitasnya.
Protokol Kyoto menempatkan beban berat pada negara-negara maju di bawah prinsip "common but differentiated responsibilities", hal ini dikarenakan negara – negara maju lebih bertanggung jawab atas tingginya tingkat emisi gas rumah kaca di atmosfer sebagai hasil dari lebih dari 150 tahun dari kegiatan industri di negara – negara maju tersebut.


Lampiran: Kyoto Protocol

Contoh Perhitungan Analisis Hujan Titik

Gambar ilustrasi "Kalkulator"
Gambar Ilustrasi

Tabel 1. Analisis Curah Hujan
 Tabel 1. Analisis Curah Hujan
Tabel 1. Analisis Curah Hujan

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa praktikan saat melakukan analisis curah hujan dilakukan pada waktu 15.25 waktu setempat sampai 16.10 waktu setempat. Adapun selang waktu (interval waktu) pada setiap pengambilan data yaitu 15 menit. 

Untuk mendapatkan data nilai jumlah waktu caranya yaitu dengan menjumlahkan waktu awal pengamatan dengan waktu pengamatan selanjutnya pengamatan (per interval waktu).

Jumlah Waktu = (selang waktu)0 + (selang waktu)1 + dst…
contoh: 15 menit + 15 menit = 30 menit


Data jeluk hujan didapatkan dengan cara mengukur ketinggian air disutu wadah. Berdasarkan tabel 1 menujukan bahwa saat 15 menit pertama didapat 4 mm jeluk hujan. Setiap interval selesai, air yang tertampung di wadah dibuah, dan air kembali dihitung dari nol pada setiap interval selanjutnya.

Jumlah hujan adalah penjumlahan nilai jeluk hujan dari pengawamatn interval watu pertama dengan interval waktu selanjutnya. 

Jumlah Hujan = (jeluk hujan)0 + (jeluk hujan)1 + dst…
contoh: 4 mm + 15 mm = 19 mm


Intensitas hujan didapatkan dengan rumus sebagai berikut:

I= d/t

Keterangan:
I  : Intensitas Hujan (mm/jam)
d : Jeluk Hujan (mm)
t  : waktu (jam)

Contoh perhitungan:
I = d/t
I = 4 mm/15 menit
I = 4 mm/0.25 jam
I = 16 mm/jam

Gambar 1. Hubungan Intensitas dan Lama Hujan
Gambar 1. Hubungan Intensitas dan Lama Hujan
Gambar 2. Hubungan Jumlah Hujan dan Waktu
Gambar 2. Hubungan Jumlah Hujan dan Waktu

Gambar 3. Hubungan Lama Hujan dan Jeluk Hujan
Gambar 3. Hubungan Lama Hujan dan Jeluk Hujan